MANTAPnews – Bungo – Batik di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, bukan sekadar kain bermotif, melainkan warisan budaya yang sarat nilai sejarah dan filosofi. Berakar dari tradisi batik Jambi sejak era Kesultanan Melayu, seni membatik dulunya hanya digunakan kalangan istana, namun kini berkembang luas dengan berbagai motif khas daerah.
Salah satu yang menjadi kebanggaan adalah motif Bungo Dani, yang mencerminkan kekayaan flora dan kearifan lokal masyarakat Bungo. Motif ini menggambarkan sekuntum bunga dengan garis dan bintik-bintik yang sarat makna kedisiplinan, keindahan alam, serta kehidupan yang damai, aman, dan harmonis. Selain itu, motif lain seperti Putrimalu, Bungo Bangkai Rami, Pakis, Manggis, hingga Daun Sirih Pinang turut memperkaya khazanah batik daerah.
Di tengah berkembangnya usaha batik lokal, muncul sosok inspiratif dari kalangan ibu rumah tangga sekaligus anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXIV Dim 0416/Bungo Tebo, yakni Ny. Lia Syarif. Ia berhasil mengembangkan usaha batik rumahan bertajuk “Lissa Batik” yang kini mulai dikenal masyarakat.

Perjalanan Ny. Lia di dunia batik bermula pada tahun 2022, saat ia mengikuti pelatihan membatik di desanya. Ketertarikan yang tumbuh membuatnya terus belajar secara mandiri di rumah.
“Awalnya hanya mencoba dari pelatihan di desa. Karena tertarik, saya lanjutkan membatik di rumah,” ungkapnya.
Semangatnya semakin kuat ketika mendapatkan pesanan pertama dari seorang guru. Dari situlah langkah kecilnya berkembang menjadi usaha yang terus tumbuh hingga saat ini.
Tak berhenti belajar, Ny. Lia aktif mengikuti berbagai pelatihan dan komunitas batik di tingkat Kabupaten Bungo. Ia juga mendapat pembinaan dari Dinas Perindagkop serta dukungan pemasaran dari Dekranasda Kabupaten Bungo.
Bahkan, kini ia kerap dipercaya menjadi narasumber di sejumlah sekolah untuk memperkenalkan dan mengajarkan seni membatik kepada generasi muda. Langkah ini menjadi kontribusi nyata dalam melestarikan budaya lokal.
Saat ini, “Lissa Batik” mampu memproduksi sekitar 35 lembar batik setiap bulan, dengan tetap menjaga kualitas serta keunikan motif khas Bungo.
Meski menjalankan usaha, Ny. Lia tetap mengedepankan perannya sebagai ibu rumah tangga dan istri prajurit TNI. Baginya, usaha batik bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga sebagai wadah berkarya dan berbagi manfaat.
“Harapan saya, usaha ini bisa membuka peluang kerja bagi ibu-ibu, sehingga dapat membantu ekonomi keluarga tanpa meninggalkan peran utama di rumah,” ujarnya.
Kisah Ny. Lia Syarif menjadi bukti bahwa dari rumah sederhana seorang prajurit, lahir karya budaya bernilai tinggi. Kehadirannya tidak hanya menggerakkan ekonomi kreatif lokal, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam melestarikan batik khas Bungo sebagai identitas masyarakat dan kebanggaan masyarakat. (**)








