MANTAPnews – BUNGO — Matahari pagi menyinari Dusun Tanjung Agung dengan hangat, menyaksikan pemandangan yang jauh lebih mengharukan dari sekadar aktivitas pembangunan biasa. Di tengah hamparan tanah desa, puluhan pasang tangan bergerak serentak ada yang mengangkat balok kayu, ada yang memukul paku, ada pula yang mengatur posisi tiang dengan penuh ketelitian. Mereka bukan sekadar pekerja; mereka adalah personel Satgas TMMD Ke-129 Kodim 0416/Bungo Tebo yang berpadu dengan warga setempat dalam satu irama gotong royong yang menggetarkan.
Memasuki tahap pemasangan rangka rumah, progres rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ini bagaikan tulang punggung yang mulai menjulang. Tiang-tiang utama kini berdiri kokoh, balok pengikat merangkai kekuatan, dan pengaku rangka memastikan setiap sambungan saling mengunci. Bagi warga sekitar, ini bukan sekadar konstruksi bangunan ini adalah fondasi masa depan yang sedang dibangun dari tanah yang dulu hanya menyimpan keprihatinan.
Di antara hiruk-pikuk pekerjaan, seorang kakek berusia 70 tahun, Maskur Hanapi, berdiri di sudut halaman dengan tatapan berkaca-kaca. Tangannya yang keriput gemetar menyentuh salah satu tiang kayu yang baru terpasang. “Dulu saya hanya bisa bermimpi,” ujarnya lirih, suaranya bergetar oleh haru. “Sekarang mimpi itu mulai terwujud di depan mata saya.”
Baginya, rumah tua yang selama bertahun-tahun menjadi saksi kehidupan—dengan dinding retak, atap bocor, dan angin yang bebas masuk—kini perlahan berubah menjadi tempat tinggal yang layak. Sebuah tempat di mana cucu-cucunya nanti bisa bermain dengan aman, di mana istrinya bisa memasak tanpa khawatir hujan masuk, dan di mana ia bisa menua dengan tenang.
Komandan Satgas TMMD menjelaskan bahwa pemasangan rangka adalah fase krusial sebelum melangkah ke tahap berikutnya: pemasangan dinding, rangka atap, hingga penutup atap. “Setiap paku yang kami pukul adalah janji,” ujarnya sambil mengawasi proses pekerjaan. “Janji bahwa rumah ini akan berdiri kuat, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk puluhan tahun ke depan. Karena bagi kami, kualitas adalah bentuk penghormatan terakhir kepada pemilik rumah.”
Namun yang paling mengesankan dari program ini bukanlah kayu atau paku yang digunakan. Melainkan semangat kebersamaan yang mengalir deras TNI dan rakyat menjadi satu. Warga bergiliran membantu, para pemuda desa turun tangan, bahkan ibu-ibu tak mau ketinggalan membawa air minum untuk para pekerja. Di sanalah esensi kemanunggalan TNI dengan rakyat terpancar paling nyata.
Program TMMD Ke-129 ini memang bukan sekadar membangun rumah. Ia membangun harapan. Bukan sekadar mengganti dinding, tapi menumbuhkan kembali keyakinan bahwa negara hadir di tengah kesulitan rakyatnya. Bahwa di pelosok desa sekalipun, ada tangan-tangan yang siap mengulurkan bantuan, ada pundak-pundak yang mau memikul beban bersama.
Ketika senja mulai turun di Tanjung Agung, bayangan rangka rumah yang mulai terbentuk tampak gagah. Maskur Hanapi duduk di teras sementara, menatap konstruksi yang perlahan menjelma menjadi rumah. Dalam hati kecilnya, ia berdoa bukan hanya untuk rumahnya, tapi untuk seluruh personel yang telah mencurahkan tenaga dan waktu mereka.
“Semoga semua kebaikan ini kembali kepada mereka,” bisiknya. “Semoga Tuhan melindungi langkah mereka di setiap tempat tugas.”
Di balik setiap tetes keringat yang jatuh, di balik setiap kayu yang diangkat bersama, tersimpan satu pesan abadi: bahwa Indonesia dibangun bukan oleh satu tangan, tetapi oleh jutaan tangan yang saling menggenggam. Dan di Bungo, di tengah hiruk-pikuk pembangunan itu, semangat gotong royong kembali terukir sebagai bukti bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat adalah kekuatan terbesar bangsa. (**)








